PENJELASAN EKUITAS PASAR BERKEMBANG
Memahami ekuitas pasar berkembang, risiko utama, dan pendorong pertumbuhan yang memengaruhi strategi investasi global.
Apa Itu Ekuitas Pasar Berkembang?
Ekuitas pasar berkembang mengacu pada saham perusahaan yang berbasis di negara-negara dengan ekonomi berkembang. Negara-negara ini biasanya mengalami industrialisasi yang pesat, peningkatan infrastruktur, dan percepatan pertumbuhan ekonomi, tetapi mungkin belum memenuhi standar pendapatan dan stabilitas negara-negara maju.
Istilah "pasar berkembang" mencakup berbagai negara dengan karakteristik yang beragam, termasuk negara-negara dengan ekonomi besar seperti Tiongkok, India, dan Brasil, serta pasar-pasar yang lebih kecil dan belum berkembang seperti Vietnam, Nigeria, atau Kazakhstan. Perbedaan utamanya terletak pada fase ekonomi transisi mereka—menawarkan potensi pertumbuhan yang tinggi tetapi juga volatilitas yang lebih tinggi dari rata-rata.
Berinvestasi di ekuitas pasar berkembang memberi investor eksposur terhadap ekonomi dinamis yang sedang mengalami transformasi struktural. Sebagian besar pertumbuhan ini didorong oleh pergeseran demografis, peningkatan konsumsi, urbanisasi, dan peningkatan akses ke modal. Perusahaan multinasional juga dapat memperoleh manfaat dari ekspansi ke pasar-pasar ini, yang selanjutnya mendorong perusahaan-perusahaan domestik.
Pasar negara berkembang biasanya diklasifikasikan berdasarkan berbagai kriteria oleh penyedia indeks:
- Indeks Pasar Negara Berkembang MSCI: Salah satu tolok ukur yang paling banyak digunakan yang menampilkan 24 negara (per 2024) termasuk Korea Selatan, Taiwan, dan Afrika Selatan.
- Indeks Pasar Negara Berkembang FTSE: Mencakup negara-negara dengan pasar ekuitas yang likuid dan dapat diinvestasikan yang sedang mengalami perkembangan progresif.
Indeks-indeks ini membantu manajer investasi dan investor melacak kinerja ekuitas pasar negara berkembang dan mengalokasikan aset dengan tepat. Produk seperti reksa dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) dan reksa dana biasanya digunakan untuk mengakses ekuitas ini, menawarkan diversifikasi di berbagai negara dan sektor.
Sektor-sektor utama di pasar negara berkembang seringkali berbeda dari sektor-sektor maju, dengan bobot yang lebih tinggi pada sektor keuangan, energi, material, dan teknologi. Lebih lanjut, pengaruh negara di banyak wilayah dapat memengaruhi tata kelola perusahaan dan hak-hak pemegang saham, sehingga menambah kompleksitas keputusan investasi.
Penting juga untuk memperhatikan perbedaan antara pasar emerging dan frontier. Pasar frontier bahkan kurang berkembang dan mungkin kekurangan likuiditas, infrastruktur pasar, dan stabilitas politik, sehingga lebih berisiko tetapi berpotensi menguntungkan bagi investor yang sangat toleran terhadap risiko.
Saham pasar emerging market menarik manfaat diversifikasi portofolio karena siklus ekonominya mungkin tidak berkorelasi erat dengan pasar maju. Dikombinasikan dengan potensi pertumbuhannya, hal ini menjadikannya komponen yang berharga—meskipun volatil—dalam portofolio global yang seimbang.
Karakteristik Ekonomi Pasar Berkembang
- PDB per kapita yang lebih rendah dibandingkan dengan negara maju
- Industrialisasi dan urbanisasi yang pesat
- Perluasan infrastruktur dan kelas menengah
- Lingkungan politik dan regulasi yang beragam
- Volatilitas dan fluktuasi mata uang yang lebih tinggi
Secara keseluruhan, ekuitas pasar berkembang merupakan segmen investasi global yang menarik, meskipun kompleks. Potensi apresiasi modal jangka panjangnya menjadikannya sering dipertimbangkan oleh investor yang berorientasi pada pertumbuhan dan terdiversifikasi secara global.
Risiko Utama Berinvestasi di Ekuitas Pasar Berkembang
Meskipun potensi pertumbuhan yang ditawarkan oleh ekuitas pasar berkembang (EM) menarik, investasi ini memiliki serangkaian risiko yang unik. Memahami dan mengelola risiko ini sangat penting bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang tanpa terkecoh oleh volatilitas atau ketidakstabilan.
1. Ketidakpastian Politik dan Regulasi
Pasar berkembang sering mengalami ketidakstabilan politik, perubahan kebijakan yang tiba-tiba, atau perubahan kerangka regulasi. Pemilu, kerusuhan politik, dan intervensi pemerintah terhadap perusahaan swasta dapat berdampak langsung pada kinerja pasar. Misalnya, kontrol modal atau kenaikan pajak yang tiba-tiba dapat mengurangi imbal hasil investor atau membatasi repatriasi keuntungan.
Investor juga harus menghadapi aturan hukum yang tidak konsisten dan perlindungan yang lebih lemah bagi pemegang saham dibandingkan dengan pasar yang sudah mapan. Nasionalisasi industri atau restrukturisasi perusahaan yang diamanatkan pemerintah dapat memengaruhi valuasi saham secara signifikan.
2. Volatilitas Mata Uang dan Nilai Tukar
Fluktuasi mata uang merupakan risiko utama dalam investasi ekuitas di negara berkembang. Negara-negara berkembang sering menghadapi tekanan inflasi, devaluasi, atau kekurangan valuta asing. Karena sebagian besar investor asing memegang aset dalam mata uang lokal, depresiasi apa pun dapat mengikis imbal hasil ketika dikonversi kembali ke mata uang dasar seperti dolar AS atau euro.
Risiko nilai tukar mata uang asing ini seringkali lebih terasa di negara-negara dengan defisit neraca berjalan yang besar atau tingkat utang luar negeri yang tinggi, sehingga membuat mereka rentan selama periode pelarian modal atau kenaikan suku bunga di negara-negara maju.
3. Likuiditas dan Infrastruktur Pasar
Pasar ekuitas di banyak negara berkembang mengalami likuiditas yang lebih rendah dan infrastruktur perdagangan yang belum berkembang. Selisih antara harga bid dan ask bisa lebar, dan mengeksekusi perdagangan besar mungkin sulit dilakukan tanpa menggerakkan pasar. Di masa krisis, likuiditas dapat hilang sama sekali, sehingga menimbulkan kerugian yang berlipat ganda.
Lebih lanjut, transparansi keuangan yang terbatas dan pengungkapan perusahaan yang kurang ketat meningkatkan kesulitan dalam mengevaluasi perusahaan. Ketidakjelasan ini dapat mengakibatkan kesalahan harga atau risiko penipuan dan salah kelola yang lebih tinggi.
4. Sensitivitas Ekonomi
Pasar negara berkembang seringkali sangat bergantung pada sektor-sektor tertentu seperti komoditas, manufaktur, atau pertanian. Mereka mungkin rentan terhadap siklus ekonomi global dan penurunan permintaan. Misalnya, eksportir komoditas seperti Rusia atau Chili menghadapi volatilitas substansial yang terkait dengan harga minyak dan logam global.
Kebijakan perdagangan global, tarif, atau perubahan strategi rantai pasokan dapat berdampak secara tidak proporsional terhadap ekonomi negara berkembang. Pandemi COVID-19 menyoroti bagaimana guncangan eksogen yang tiba-tiba dapat melemahkan pasar negara berkembang, baik secara finansial maupun dalam hal kapasitas layanan kesehatan dan tata kelola.
5. Tantangan Hukum dan Tata Kelola Perusahaan
Hak investor dan standar tata kelola perusahaan di negara-negara berkembang (EM) mungkin kurang kuat. Pemegang saham minoritas mungkin memiliki akses terbatas terhadap keputusan manajemen, transaksi pihak terkait, atau dilusi ekuitas. Independensi dewan direksi dan kualitas audit mungkin tidak memenuhi norma internasional.
Selain itu, korupsi dan kurangnya mekanisme penegakan hukum dapat memengaruhi prediktabilitas bisnis dan kepercayaan investor, sehingga meningkatkan premi risiko yang dituntut oleh pasar.
Strategi Mitigasi Risiko
- Diversifikasi di berbagai wilayah dan sektor EM
- Gunakan manajemen aktif untuk pemahaman pasar yang lebih mendalam
- Lindungi eksposur mata uang jika memungkinkan
- Pantau indikator makroekonomi secara berkala
- Berinvestasilah melalui reksa dana yang mapan dengan rekam jejak yang kuat
Kesimpulannya, ekuitas pasar berkembang memiliki risiko investasi yang signifikan. Namun, dengan mengevaluasi dan mendiversifikasi risiko secara sistematis, investor dapat memanfaatkan potensi pertumbuhan tinggi yang ditawarkan pasar ini sekaligus meredam dampak negatifnya.
Pendorong Pertumbuhan Pasar Berkembang
Meskipun terdapat risiko yang melekat, pasar berkembang menawarkan pendorong pertumbuhan yang sangat menarik yang terus menarik investor institusional maupun ritel. Pendorong ini bersifat multifaset dan saling terkait, mencakup tren demografi hingga inovasi dan reformasi kebijakan.
1. Dividen Demografi
Negara-negara berkembang biasanya diuntungkan oleh populasi muda yang tumbuh pesat. Demografi ini menciptakan peningkatan angkatan kerja dan konsumsi domestik. Negara-negara seperti India, Indonesia, dan Nigeria diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang signifikan selama beberapa dekade mendatang.
Dividen demografi ini berkontribusi pada:
- Produktivitas dan output ekonomi yang lebih tinggi
- Perluasan kelas menengah dan permintaan konsumen
- Peningkatan permintaan untuk perumahan, pendidikan, layanan kesehatan, dan infrastruktur
Konsumsi domestik yang dihasilkan mendorong pendapatan perusahaan dan mendorong kinerja ekuitas di berbagai sektor seperti barang kebutuhan pokok, jasa keuangan, dan telekomunikasi.
2. Lompatan Teknologi
Pasar negara berkembang sering kali mengabaikan infrastruktur lama dan mengadopsi teknologi baru secara langsung, sebuah fenomena yang dikenal sebagai lompatan. Perbankan seluler, solusi teknologi finansial, energi terbarukan, dan e-commerce adalah contoh-contoh penting. M-Pesa Kenya adalah contoh terkenal dari inovasi yang berasal dari konteks negara berkembang dan berkembang pesat.
Adopsi platform digital yang cepat membawa efisiensi bagi sektor publik dan swasta. Dominasi Tiongkok dalam e-commerce, revolusi pembayaran berbasis UPI di India, dan perkembangan perbankan digital Brasil menggambarkan bagaimana inovasi dapat mendukung kinerja perusahaan yang kuat.
3. Reformasi Kebijakan dan Struktural
Banyak negara berkembang menerapkan reformasi yang ramah pasar yang bertujuan untuk membuka diri bagi investor global dan meliberalisasi perdagangan dan keuangan. Contohnya termasuk reformasi pajak, perbaikan tata kelola fiskal, dan insentif investasi asing.
Reformasi meningkatkan kepercayaan investor, mendukung lingkungan ekonomi makro yang stabil, dan membangun jangkar pertumbuhan jangka panjang. Pasar seperti Indonesia dan Vietnam sering disebut-sebut karena kebijakan pro-pertumbuhan dan lingkungan pro-bisnisnya.
4. Partisipasi dalam Rantai Pasokan Global
Seiring perusahaan global mendiversifikasi sumber daya dan produksi, pasar negara berkembang semakin terintegrasi ke dalam rantai pasokan global. Strategi "China Plus One" merupakan hasil langsung dari upaya perusahaan multinasional untuk meningkatkan ketahanan operasional dengan berinvestasi di negara-negara Asia lainnya seperti Vietnam, Bangladesh, dan Filipina.
Pergeseran ini tidak hanya mendukung manufaktur berorientasi ekspor tetapi juga mendorong peningkatan infrastruktur, arus masuk modal, dan transfer teknologi, yang pada akhirnya mendorong ekuitas lokal.
5. Transformasi Ekonomi Hijau
Pasar-pasar berkembang menjadi pemain penting dalam transisi energi global. Negara-negara seperti Chili, Afrika Selatan, dan India berinvestasi besar-besaran dalam energi terbarukan dan pembangunan berkelanjutan. Pergeseran ini membuka peluang besar di sektor teknologi bersih, energi alternatif, dan infrastruktur hijau.
Dengan dukungan global dari lembaga-lembaga seperti Bank Dunia dan ekuitas swasta yang berfokus pada iklim, ekonomi negara-negara berkembang siap memimpin dalam bidang-bidang keberlanjutan di mana negara-negara maju mungkin menghadapi kendala warisan.
Akses Investor dan Pertumbuhan Kelembagaan
Meningkatnya fokus global pada pasar-pasar berkembang juga menghasilkan peningkatan aksesibilitas dan pengawasan pasar. Lembaga seperti MSCI dan FTSE telah memperkenalkan kriteria inklusi yang lebih ketat, mendorong tata kelola dan transparansi yang lebih baik.
Selain itu, pertumbuhan dana pensiun domestik dan dana kekayaan negara di negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, dan Arab Saudi telah menambah stabilitas dan modal jangka panjang bagi pasar ekuitas lokal.
Pasar negara berkembang tidak lagi dianggap remeh. Pasar negara berkembang mencakup lebih dari 80% populasi dunia dan sekitar 60% PDB global (dalam hal daya beli). Kepentingan mereka dalam portofolio ekuitas global diperkirakan akan terus meningkat seiring berlanjutnya konvergensi ekonomi.
Dengan reformasi yang sedang berlangsung, demografi yang muda, inovasi, dan integrasi global yang lebih mendalam, ekuitas pasar negara berkembang menjadi garda terdepan yang vital bagi strategi investasi global jangka panjang.