Home » Saham »

APA YANG TERJADI DENGAN SAHAM NVIDIA

Nvidia baru saja menjawab semua komentar “bubble AI sudah pecah” dengan cara yang paling brutal: laporan Q3 FY2026 yang bukan cuma beat, tapi menghancurkan ekspektasi dan menaikkan standar lagi. Setelah beberapa minggu penuh headline soal pembatasan ekspor ke Cina, kegaduhan politik di AS, dan arus opsi yang defensif, saham sempat turun sekitar 18% dari puncak Oktober dan hampir 8% di November menjelang laporan. Pasar sudah siap mental untuk “kuartal pencernaan”. Yang datang justru sebaliknya: pendapatan $57,03 miliar, Data Center $51,2 miliar, margin kotor non-GAAP 75%, dan panduan Q4 sekitar $65 miliar. Saham meledak lebih dari 7% di after-hours, premarket naik ke $153–$154, dan market cap kembali menembus $5 triliun. Di bawah ini, cerita lengkapnya: bagaimana kita sampai ke koreksi, apa yang sebenarnya dikatakan angka-angkanya, dan bagaimana investor bisa membacanya ke depan.

Dari koreksi ke reli


Untuk benar-benar menjawab “apa yang terjadi dengan saham Nvidia?”, kamu harus melihat dua babak sekaligus. Babak pertama: euforia, rekor kapitalisasi $5 triliun, dan all-time high baru, lalu pelan-pelan berubah menjadi koreksi tajam ketika headline tentang Cina, politik, dan pasar opsi menekan sentimen. Babak kedua: malam 19 November 2025, ketika laporan Q3 FY2026 keluar dan membalik narasi dari “siklus belanja AI mulai jenuh” menjadi “supercyclus AI justru makin panjang dan curam”. Bagian ini mengurai dulu babak pertama—set up sebelum laporan.


Dari rekor $5 triliun ke November yang gelisah


Akhir Oktober, Nvidia terlihat hampir tak tersentuh. Saham untuk pertama kalinya menutup hari perdagangan dengan valuasi di atas $5 triliun, menutup pekan di kisaran $208 dan beberapa sesi kemudian mencetak all-time high baru di sekitar $212. Di Reddit, trader ritel menobatkannya sebagai “AI king forever” sambil mem-posting meme roket ke bulan. Lalu, seperti biasa, realitas mulai menyelipkan friksi.


South China Morning Post melaporkan bahwa Beijing diam-diam melarang semua chip AI asing di pusat data milik negara. Aturannya tersembunyi dalam dokumen 47 halaman, tapi algoritma pasar hanya baca judul. Dalam beberapa jam setelah pasar New York buka, NVDA sudah turun sekitar 4%. Sore harinya, Reuters mengutip Departemen Perdagangan AS yang menegaskan bahwa GPU Blackwell “untuk saat ini” tetap masuk daftar hitam ekspor ke Cina. Dari sisi fundamental, Cina hanya sekitar 5% dari pendapatan Data Center (bahkan lebih kecil dari total revenue), tapi di saham seharga $5 triliun, perubahan narasi politik bisa menggerakkan multiple secara brutal.


Di waktu yang hampir bersamaan, muncul headline lain dari Wall Street Journal: tim transisi Trump memberi sinyal ke lembaga-lembaga pemerintah bahwa “tidak akan ada bailout untuk industri AI, titik”. Di sisi perusahaan, Nvidia justru mengumumkan kabar baik: mereka menandatangani kerja sama dengan Samsung, Deutsche Telekom, dan Nokia untuk menjalankan 5G-AI di atas arsitektur Blackwell. Saham sempat naik sekitar 1% di sesi after-hours, tapi kenaikan itu hilang begitu saja di hari berikutnya. Pesan dari pasar jelas: kabar micro yang positif belum cukup mengimbangi kecemasan macro dan regulasi.


Opsi, gamma, dan efek domino sektor AI


Di balik layar, pasar opsi mulai mengambil alih kendali. Volume put melonjak, terutama untuk kontrak jangka pendek dengan strike di kisaran $195–$188. Dealer yang menjual put-put ini terjebak dalam mode gamma negatif: ketika harga saham turun, mereka harus menjual lebih banyak saham atau future untuk menjaga posisi delta netral, yang justru mendorong harga turun lebih jauh. Hasilnya adalah feedback loop: berita yang sebenarnya “ukuran sedang” menghasilkan pergerakan harga yang “ukuran jumbo”.


Lalu datang efek domino di seluruh kompleks AI. Segmen CNBC menyoroti AMD, Broadcom, dan Marvell yang masing-masing turun 5–7% dalam sehari—sinyal klasik bahwa manajer portofolio sedang mengurangi risiko di seluruh “tumpukan” AI: dari GPU akselerator hingga jaringan dan memori. Pemilik keranjang saham AI menjual secara menyeluruh, fund relative value mengurangi posisi long-Nvidia/short-peer, dan arus pasif dari indeks ikut menambah tekanan. Nvidia yang sebelumnya menembus ~$212, mendadak terperosok di bawah $192 dan kemudian berkonsolidasi di area $180-an atas.


Menjelang pertengahan November, saham diperdagangkan sekitar 18% di bawah puncak Oktober dan kurang lebih 8% di bawah level awal bulan—tepat ketika kalender beranjak ke malam laporan Q3 FY2026. Bukan crash, tapi cukup dalam untuk membuat narasi “mungkin puncaknya sudah lewat” terasa masuk akal bagi banyak pelaku pasar.


Apa yang sebenarnya ditakuti pasar


Masuk ke minggu laporan, cerita konsensus terdengar seperti ini: siklus belanja infrastruktur AI memang fenomenal, tapi kecepatan seperti itu tak bisa bertahan selamanya. Pembatasan ekspor ke Cina akan melukai permintaan untuk Hopper. Pelanggan besar akan menunda pesanan sambil menunggu Blackwell. Arsitektur baru akan menekan margin saat fase awal. Dan komite capex di hyperscaler akhirnya akan mengingat bahwa kata “budget” itu ada di kamus.


Dalam kerangka pikir ini, pasar tidak perlu laporan yang jelek untuk menghukum saham; yang diperlukan hanya sedikit bukti bahwa kurva sedang “melandai”. Harga penutupan $144,86 di sesi reguler sebelum laporan lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi daripada sinyal bahwa permintaan tiba-tiba menghilang. Pasar sudah menurunkan standar—yang tidak mereka perkirakan adalah seberapa jauh Nvidia melampaui standar itu beberapa jam kemudian.


Checklist sebelum laporan


  • Posisi dan sentimen: kepemilikan ritel tinggi, banyak strategi kuant dan opsi, serta bobot indeks besar membuat saham ini sangat sensitif terhadap guncangan narasi.


  • Valuasi yang mahal: market cap $5 triliun berarti pasar sudah “membayar di muka” sebagian besar ekspektasi supercyclus AI satu dekade ke depan.


  • Lapisan regulasi: aturan ekspor dan politik AI menambah lapisan premi risiko di atas perhitungan DCF biasa.


  • Tape sektor: pelemahan di nama-nama AI lain lebih mirip de-risking menyeluruh daripada masalah idiosinkratik di Nvidia saja.


  • Whisper expectations: di laporan resmi, analis masih optimis; di obrolan off-record, banyak yang bilang “ini mungkin kuartal di mana pertumbuhan mulai pelan”.



Itu panggungnya. Di atas panggung itulah Nvidia kemudian meletakkan laporan Q3 FY2026 yang mengubah nada percakapan dalam satu malam.


Guncangan laporan keuangan


Pada malam 19 November 2025, Nvidia tidak sekadar “mengalahkan” konsensus; mereka mengubah struktur permainan. Q3 FY2026 menjadi sinyal “all clear” untuk supercyclus AI: pendapatan dan laba kembali berakselerasi, margin tetap di langit-langit, dan panduan Q4 memberi tahu pasar bahwa siklus belanja tidak melambat—justru naik tingkat. Di bagian ini kita uraikan angka-angka inti, panduan ke depan, dan komentar manajemen yang membuat saham melonjak dan membuat tesis bearish terlihat usang.


Q3 FY2026 dalam angka


Mari mulai dari atas: pendapatan Q3 mencapai $57,03 miliar, naik 62% year-on-year dan 22% quarter-on-quarter. Konsensus analis berada di kisaran $54,8–$55,3 miliar, sehingga Nvidia menambah sekitar $2 miliar di atas titik tengah ekspektasi yang sudah tinggi—dan itu setelah “whisper number” diam-diam naik mendekati laporan. Untuk perusahaan senilai $5 triliun, angka pertumbuhan sebesar ini hampir tidak masuk akal; ini sinyal kuat bahwa permintaan AI belum masuk fase bosan.


Data Center—segmen yang secara praktis mengendalikan valuasi—mencetak pendapatan $51,2 miliar, naik 66% YoY dan 25% QoQ. Itu sekitar 89,8% dari total pendapatan. Gaming, Automotive, dan Pro Viz masih ada di laporan, tapi kini benar-benar menjadi “angka pembulatan”. Yang ingin dilihat pasar hanyalah satu hal: apakah hyperscaler, enterprise, dan pemerintah masih menggelontorkan uang dalam jumlah besar untuk infrastruktur AI? Dari angka ini, jawabannya adalah “ya, dan lebih besar dari yang Anda kira”.


Di sisi profit, EPS non-GAAP berada di $1,30—beats sekitar $0,04–$0,05 tergantung model. Laba bersih GAAP mencapai $31,92 miliar, kira-kira 65% lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu. Margin kotor non-GAAP bertahan di 75,0%, flat versus kuartal sebelumnya dan sekitar 160 basis poin lebih tinggi dari tahun lalu, padahal arsitektur Blackwell yang biasanya akan menekan margin di fase awal ramp sudah mulai memberi kontribusi. Opex “hanya” $4,83 miliar, naik 18% YoY. Dengan pertumbuhan revenue 62%, leverage operasional Nvidia tetap di level “dewa akuntansi”.


Guidance Q4 yang mengubah skenario


Jika Q3 adalah laporan yang kuat, guidance Q4 adalah bagian di mana pasar merasa harus mengganti seluruh spreadsheet. Untuk Q4 FY2026, manajemen memandu pendapatan $65,0 miliar ±2%—midpoint sekitar $65 miliar, setara dengan pertumbuhan kira-kira 94% YoY dan 14% QoQ. Street sebelumnya berada di kisaran $62,5–$63 miliar. Nvidia bukan cuma mengkonfirmasi ekspektasi tinggi; mereka mengangkat mistar beberapa miliar dolar lebih tinggi.


Dari pembagian segmen dan komentar manajemen, implikasi pendapatan Data Center di Q4 berada di kisaran ~$59–$60 miliar. Sebagian besar model analis sebelumnya menempatkannya di $56–$57 miliar. Artinya, bukan hanya permintaan yang tetap kuat; kurva belanja justru menanjak. Narasi “pelanggan stop dulu sebelum Blackwell” tidak tercermin di angka—yang ada justru pola “beli Hopper sambil sekalian mengunci Blackwell”.


Jensen Huang tidak berusaha merendah di conference call. Komentar seperti “Blackwell demand is off the charts”, “Cloud provider GPUs are sold out for the next 12 months”, dan “We are in full production ramp on Blackwell — expect billions in revenue this quarter and tens of billions next quarter” adalah cara halus seorang CEO untuk mengatakan: “Kalau Anda menunggu tanda bahwa siklus ini selesai, itu bukan malam ini.” Dalam bahasa trader: kita bukan di akhir siklus, kita masih di tengah permainan dengan volume yang terus dinaikkan.


Narasi bearish yang dibongkar satu per satu


Sebelum laporan, tesis bearish berdiri di atas empat pilar besar: risiko Cina, jeda pesanan sebelum Blackwell, tekanan margin dari arsitektur baru, dan gagasan bahwa capex AI sudah mencapai puncak. Laporan Q3 dan guidance Q4 pada dasarnya menghantam keempatnya.


  • Eksposur Cina: manajemen menegaskan bahwa Cina hanya sekitar 5% dari pendapatan Data Center dan porsi satu digit rendah dari total revenue. Secara headline memang bising, tapi secara P&L bukan variabel utama. Kebijakan ekspor menjadi masalah timing, bukan cerita eksistensial.


  • “Pause sebelum Blackwell”: faktanya pelanggan tidak menghentikan pembelian Hopper; mereka menumpuk Hopper dan Blackwell sekaligus untuk beban kerja dan generasi cluster yang berbeda. Itu artinya overlap permintaan, bukan kanibalisasi generasi lama oleh generasi baru.


  • Margin tertekan: meskipun Blackwell mulai ramp, margin kotor non-GAAP tetap 75% dan naik YoY. Sistem penuh (NVL72/144), networking, dan software stack memberi buffer margin yang besar terhadap biaya silikon murni.


  • Bubble capex: dengan Q4 yang dipandu hampir dua kali lipat YoY dan komentar bahwa belanja 2026 para hyperscaler akan lebih tinggi daripada 2025, narasi “bubble sudah pecah” terdengar lebih seperti komentar Twitter daripada model yang serius.



Sovereign AI, sistem penuh, dan reaksi saham


Di luar angka headline, warna tambahan dari conference call sama pentingnya. Pipeline Sovereign AI—istilah Nvidia untuk negara dan entitas publik yang membangun infrastruktur AI nasional—kini sudah menembus $20 miliar per tahun, naik dari sekitar $10 miliar hanya satu kuartal lalu. Ini bukan satu proyek raksasa, tapi kumpulan program nasional yang semuanya ingin punya “GPU stack sendiri” tanpa harus bergantung sepenuhnya ke cloud komersial.


Untuk sistem penuh, Nvidia menyebut bahwa rak NVL72 dan NVL144 (konfigurasi Blackwell utuh) pada dasarnya sudah sold out untuk sebagian besar 2026. Ini bukan lingkungan “kalau-kalau ada permintaan”; ini lingkungan di mana bottleneck-nya adalah produksi, power, dan kapasitas data center fisik. Nama-nama pelanggan yang disebut juga tidak sembarangan: Meta memesan sekitar 350 ribu GPU Blackwell tambahan untuk pengiriman 2026; Tesla Dojo juga akan memakai Blackwell, dengan Elon yang terang-terangan mengatakan bahwa ia akan membelanjakan $3–$4 miliar ke Nvidia tahun depan; superchip Grace-Blackwell sudah dikirim ke semua cloud besar.


Bagaimana pasar merespons? Saham menutup sesi reguler 19 November di $144,86, sudah naik lumayan di hari itu tapi masih jauh di bawah puncak Oktober. Di sesi after-hours sesudah laporan, harga melonjak hingga +7,1% dan sempat menyentuh $155,18. Di premarket pagi berikutnya, saham diperdagangkan di kisaran $153–$154, sekitar 6–6,5% di atas penutupan sebelumnya.


Yang lebih penting adalah simbolismenya: market cap Nvidia kembali menembus $5 triliun, kali ini bukan hanya didukung “cerita masa depan”, tapi angka laba dan pipeline yang bisa dihitung. Dengan satu laporan, drawdown November (sekitar −8% ke laporan dan sekitar −18% dari puncak Oktober) pada dasarnya dihapus. Polanya sangat “Nvidia”: kompresi volatilitas menjelang event besar, lalu re-rating agresif ketika angka rilis.


Lima angka yang mengubah narasi


  • $57,03 miliar pendapatan Q3 (+62% YoY, +22% QoQ), sekitar $2 miliar di atas konsensus.


  • $51,2 miliar pendapatan Data Center (+66% YoY, +25% QoQ), hampir 90% dari total penjualan.


  • Margin kotor non-GAAP 75,0%, flat QoQ dan naik ~160 bps YoY meski Blackwell mulai ramp.


  • $65 miliar ±2% panduan Q4 (sekitar +94% YoY dan +14% QoQ), beberapa miliar di atas ekspektasi Street.


  • Market cap kembali di atas $5 triliun, kini disangga oleh earnings power yang terbukti, bukan sekadar narasi.



Intinya: ini bukan kuartal “ya lumayan, kita selamat”. Ini adalah kuartal “kita masih gas penuh menanjak”. Dan itu mengubah cara pasar memikirkan risiko dan peluang ke depan.


Saham NVIDIA: masih peluang atau dinilai terlalu tinggi?

Saham NVIDIA: masih peluang atau dinilai terlalu tinggi?

Apa artinya sekarang


Setelah Q3 FY2026, jawaban atas “apa yang terjadi dengan saham Nvidia?” sudah sangat berbeda dibanding seminggu sebelumnya. Koreksi yang didorong ketakutan regulasi dan struktur opsi bertemu laporan yang menunjukkan AI infrastructure cycle masih berada di fase ekspansi agresif. Bagian terakhir ini fokus pada implikasi: bagaimana supercyclus AI terlihat setelah update ini, bagaimana skenario harga jangka pendek dan menengah, dan bagaimana berbagai tipe investor—dari institusi global sampai trader ritel di Jakarta—bisa membingkai risiko dan peluang tanpa terjebak FOMO total.


Supercyclus AI yang dinaikkan levelnya


Sebelum laporan ini, argumen skeptis yang cukup wajar adalah: “Ya, AI itu besar, tapi kurvanya rapuh.” Ketergantungan pada beberapa hyperscaler besar, kebijakan ekspor AS, dan siklus suku bunga global membuat banyak orang merasa satu perubahan kebijakan saja bisa mengguncang seluruh narasi. Setelah Q3, gambarannya lebih kaya: hyperscaler justru meningkatkan panduan belanja 2026 di atas 2025; pipeline Sovereign AI melonjak dua kali lipat dalam satu kuartal; dan sistem Blackwell dalam konfigurasi penuh sudah practically sold out sepanjang sebagian besar 2026.


Bagi Nvidia sendiri, kuncinya adalah bahwa pertumbuhan tidak datang dengan mengorbankan profitabilitas. Margin kotor 75%, opex yang hanya naik 18% YoY, dan model bisnis yang semakin bergeser dari “jual chip” menjadi “jual platform komputasi lengkap”—sistem, jaringan, dan software—semuanya berarti satu hal: setiap dolar pendapatan baru dari Data Center membawa margin yang sangat tinggi. Jika dalam beberapa kuartal ke depan ternyata margin Blackwell bahkan lebih baik dari asumsi pasar saat ini, maka fair value jangka panjang Nvidia harus disetel ulang ke atas.


Skenario jangka pendek dan menengah


Di horizon jangka pendek, diskusi tentu akan berkutat pada level harga. Dengan after-hours menyentuh sekitar $155 dan perdagangan premarket di $153–$154, pasar mulai melirik zona $160–$170 sebagai “target gravitasi” berikutnya—apalagi kalau dealer opsi sekarang short gamma di sisi atas dan terpaksa mengejar harga. Dari sudut pandang volatilitas, itu adalah resep klasik untuk squeeze naik yang cepat.


Sedikit lebih jauh ke depan, banyak model mulai memasukkan skenario di mana saham bisa menguji $200+ sebelum laporan berikutnya, terutama jika ramp Blackwell berjalan sesuai panduan dan margin tetap di area 70%-an pertengahan. Tentu, itu bukan jaminan; guncangan makro, regulasi baru, gangguan pasokan (misalnya di networking atau power), atau langkah agresif dari kompetitor bisa mengubah jalur. Tapi baseline di banyak meja trading sudah bergeser dari “mungkin puncak sudah lewat” menjadi “ternyata tanjakan ini lebih panjang dan curam dari perkiraan awal”.


Kerangka praktis untuk berbagai tipe investor


Lalu, untuk investor dan trader, bagaimana cara menyikapinya tanpa berpura-pura bisa meramal masa depan? Anggap ini bukan rekomendasi, tapi kerangka berpikir yang bisa disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.


  • Investor fundamental jangka panjang: kombinasi Q3/Q4 bisa dibaca sebagai konfirmasi bahwa siklus infrastruktur AI masih berjalan setidaknya ke 2026–2027. Fokus utamanya: volume unit, backlog, bottleneck supply (terutama networking dan power), serta kontribusi software/platform—bukan setiap tick di layar. Masuk bertahap, tambah ketika koreksi driven oleh headline, bukan karena kerusakan fundamental.


  • Allocator sektor dan makro: Nvidia sekarang menjadi anchor untuk seluruh tema AI. Underweight kronis di akselerator, jaringan AI, dan nama-nama terkait kini membawa risiko karier yang nyata. Di sisi lain, terlalu banyak eksposur di satu nama $5 triliun jelas bukan ide yang tenang. Diversifikasi across stack dan pengaturan sizing posisi menjadi kunci—termasuk bagi fund di Asia Tenggara yang menjadikan NVDA sebagai proxy utama tema AI global.


  • Trader opsi dan jangka pendek: setiap tanggal laporan Nvidia sekarang adalah event makro mini. Struktur implied vol, skew, dan term structure mencerminkan FOMO sekaligus ketakutan rug pull. Alih-alih naked calls atau puts, banyak trader memilih call spread, calendar spread, atau struktur risiko-terbatas lain untuk bermain upside tanpa mempertaruhkan seluruh akun. Dan yang paling penting: hormati dinamika gamma—perubahan kecil di spot bisa memaksa dealer menggeser posisi dengan cepat.


  • Ritel “buy the dip”: laporan ini memvalidasi tesis kamu lebih dari timing kamu. Fokus risiko bergeser dari “AI beneran menghasilkan uang atau tidak?” ke “berapa persen portofolio yang wajar ditempatkan di satu saham?”. Bahkan jika Nvidia terlihat seperti “saham wajib punya” di era AI, memasukkan beberapa nama lain dalam rantai nilai—foundry, cloud, storage, software—bisa membantu tidur lebih nyenyak ketika volatilitas kembali.



Risiko yang tetap nyata


Mudah sekali untuk meremehkan risiko setelah kuartal seperti ini, tetapi itu justru waktu yang paling berbahaya untuk lengah. Regulasi ekspor bisa berubah lebih ketat; negara lain bisa meniru atau memperkeras kontrol mereka sendiri; dan proyek chip khusus di hyperscaler bisa perlahan menggerus share Nvidia di pinggiran. Keterbatasan energi dan infrastruktur data center di beberapa wilayah juga bisa menjadi faktor penghambat yang tidak terkait langsung dengan kualitas produk Nvidia.


Selain itu, matematika sederhana market cap tetap berlaku: di valuasi $5 triliun+, Nvidia tidak perlu “gagal total” untuk memicu drawdown besar; cukup jika pertumbuhan melambat sedikit dari skenario hiper-optimistis, dan multiple akan menyesuaikan. Dalam bahasa lain, bahkan di supercyclus sekalipun, jalan menuju return jangka panjang sering kali dipenuhi koreksi yang membuat perut mual.


Jawaban baru atas pertanyaan lama


Jadi, apa yang terjadi dengan saham Nvidia? Versi pendeknya: kita baru saja menyaksikan kurva sentimen lengkap. Pertama, euforia yang mendorong market cap ke $5 triliun dan harga ke rekor baru. Kedua, fase cemas ketika headline dan struktur opsi menekan harga dan membuat pasar bertanya-tanya apakah siklus AI sudah sampai puncak. Dan ketiga, laporan Q3 FY2026 yang menghancurkan keraguan itu dengan $57 miliar pendapatan, margin 75%, panduan Q4 yang “gila-gilaan”, dan narasi yang jelas bahwa belanja 2026–2027 justru akan lebih besar.


Versi panjangnya: Nvidia baru saja beralih dari “cerita dengan angka di catatan kaki” menjadi “angka besar yang menjelaskan kenapa cerita AI itu serius”. Supercyclus AI bukan hanya masih hidup; setelah laporan ini, ia terlihat lebih besar dan lebih panjang dari yang diperkirakan banyak orang di awal tahun. Itu tidak menjamin garis harga akan mulus ke atas, dan sama sekali tidak menghapus risiko. Tapi setidaknya untuk saat ini, pasar punya jawaban yang cukup jelas untuk satu pertanyaan kunci: belum, ini belum akhir pesta AI. Untuk Nvidia, ini terlihat lebih seperti bab berikutnya dari reli yang sudah berjalan beberapa tahun.


INVESTASI DI SAHAM NVIDIA